Mencicipi Resep Kuliner Khas Kudus

Mencicipi Resep Kuliner Khas Kudus
Kuliner di Kudus ternyata memiliki riwayat yang sangat panjang dan memiliki nilai sejarah. Kita cicipi, yuk!

Sate Kerbau
Kalau Anda menyusuri kuliner di Kudus, jangan mencari resep masakan dengan menu daging sapi. Anda tak akan menemukannya. Sejak zaman dulu, di Kudus memang tidak ada tempat pemotongan sapi. Tak lazim warga asli Kudus menyantap daging sapi.

Konon, ketika Sunan Kudus menyebarkan agama Islam, di Kudus sudah ada warga yang menganut agama Hindu, yang menganggap sapi sebagai hewan suci. “Nah, demi menghormati umat Hindu, Sunan Kudus menganjurkan agar warga tidak memotong sapi, apalagi mengonsumsinya. Toh masih banyak daging lain yang bisa dikonsumsi,” tutur Sugiarto (62), warga setempat yang berjualan sate kerbau.

Sebagai gantinya, warga mengonsumsi daging kerbau. Warga pun kreatif mengolah daging kerbau yang sebenarnya bertekstur kasar ini, misalnya saja dengan cara dibuat resep satai. “Kalau diolah secara biasa, sate kerbau pasti keras. Makanya, sebelum diolah menjadi sate, dagingnya mesti dilembutkan dahulu.”

Ilmu resep membuat sate kerbau didapat Sugiarto dari bapak mertuanya, mendiang Kusrin. Sugiarto yang tahun 1974 menikahi Mahmudah, anak sulung Kusrin, mengisahkan, “Bapak mulai jualan sate kerbau tahun 1977 dengan nama Maju. Awalnya saya hanya membantu,” kata Sugiarto yang kala itu pegawai honorer staf TU sebuah sekolah.

Honor sebulan, tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga Sugiarto. Itu sebabnya, Sugiarto ingin membuka usaha sendiri. Pilihannya, ya berjualan sate.

Ia pun paham, ia mesti memilih daging yang tak banyak uratnya. Setelah daging bermutu baik didapat, daging ditumbuk.”Saat itu, belum ada mesin giling. Agar empuk, daging digebuk pakai kayu agar empuk. Wah, tangan bisa pegal-pegal.”

Setelah lembut, daging diberi resep bumbu dendeng yakni paduan resep ketumbar, jinten, bawang putih, gula. Daging diolesi bumbu sampai merata, kemudian ditusuk dan dibakar. “Nah, sebelum disajikan, satai dibakar lagi, lalu dikasih bumbu kacang campur srundeng,” kata Sugiarto yang pertama kali jualan tahun 1977.

Usaha Sugiarto yang juga membawa nama Maju, benar-benar maju. Ada suatu masa, dalam sehari ia menghabiskan 1000 tusuk. “Banyak pelanggan dari luar kota. Waktu itu, saking larisnya, saya sampai nolak pembeli,” kata Sugiarto seraya mengatakan, kelima anak Kusrin, semua meneruskan usaha jual satai.

Sayang, situasi ekonomi membuat usaha Sugiarto surut. “Sejak kenaikan harga BBM, semua barang-barang naik. Sekarang harga daging sekilo sudah Rp 50 ribuan. Saya jual sate per porsi isi 10 tusuk Rp 11 ribu. Relatif mahal.

Bandingkan dengan harga soto yang per porsi Rp 5 ribu. Meski begitu, hasilnya masih lumayan. Bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Sugiarto yang sehari menghabiskan sekitar 350 tusuk.”Kalau pun sisa, jual sate kerbau tidak ada istilah rugi. Karenanya resepnya dibumbu dendeng, satai kerbau awet sampai tiga hari.” Keuntungan dagang sate kerbau disebut Sugiarto maro, artinya separoh dari pendapatan kotor.

Dengan keuntungan itu, Sugiarto mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. “Saya membangun rumah, juga dari hasil jualan satai. Anak-anak juga saya belikan sepeda motor,” kata bapak lima anak yang masih terlihat sehat ini.

Comments are closed.